Thursday, September 25, 2008

JACKY CHAN - ACTOR


Saat ini, hampir semua orang mengenal sosok Jackie Chan. Seorang aktor yang sangat komplet, bisa main film kungfu, menyanyi, komedi, dan berbagai peran menantang lain. Hebatnya, untuk melakoni film-film action yang banyak adegan berbahaya, ia menolak menggunakan pemeran pengganti. Maka, tak jarang, cidera ringan hingga serius kerap dideritanya. Namun, itulah seorang Jackie Chan. Ia selalu berperan total dalam setiap pekerjaan yang dijalaninya.

"Terlahir dari pasangan keluarga miskin, Charles dan Lee-lee Chan pada 7 April 1954, Jackie rupanya memang terbiasa dilatih kungfu sejak kecil oleh ayahnya. Barangkali, inilah dasar utama yang membuat Jackie punya mental baja dalam menjalani setiap peran dalam kehidupannya. Menurut ayahnya, belajar kungfu dapat membangun karakter, kesabaran, kekuatan, dan keberanian, seperti yang dimiliki Jackie saat ini.

Sikap tersebut terbukti dalam perjalanan hidup Jackie kecil. Saat usianya baru menginjak tujuh tahun, ia sudah berpisah dengan orang tuanya yang pergi ke Australia untuk bekerja. Ketika itu, ia dititipkan untuk bersekolah di China Drama Academy. Di sekolah itulah, kemampuannya makin terasah, mulai dari ilmu beladiri, akrobat, menyanyi, dan akting. Selain itu, pola pengajaran di sekolah yang sangat keras, meski kadang membuatnya menderita, justru makin mengasah mentalnya.

Melalui sekolah itu, jalurnya ke dunia perfilman terbuka. Ketika menginjak usia 8 tahun, ia jadi figuran untuk sebuah film berjudul: "Seven Little Valiant Fighters: Big and Little Wong Tin Bar." Ia juga membentuk grup pertunjukan seni beladiri bersama Sammo Hung dan Yuen Biao, dua aktor yang kini juga sangat terkenal.

Namun, kisah perjuangan Jackie tak semulus gerakan lincah kaki dan tangannya. Awal karirnya banyak dilewatkan hanya dengan menjadi figuran atau stuntman. Hanya keberaniannya dalam melakoni adegan-adegan berbahaya yang membuat Jackie cepat dikenal dan banyak dipakai di beberapa film. Sayang, industri film di Hong Kong sempat surut. Ia akhirnya pindah ke Australia mengikuti orang tuanya yang sudah lama tinggal di sana. Tapi, ia tak betah lama di negeri Kanguru.

Jackie akhirnya kembali ke Hong Kong ketika ia mendapat tawaran bermain di sebuah film atas undangan Willie Chan, seorang pencari bakat. Meski kurang sukses, film berjudul: “New Fist of Fury” itu mulai mengangkat namanya. Setelah beberapa film tak sesuai harapan, akhirnya dua film, yaitu "Snake in Eagle's Shadow" dan “Drunken Master” melambungkan namanya hingga ke Asia dan akhirnya sampai ke Hollywood. Di sana, ia sempat membuat sejumlah film yang cukup laris, seperti Rumble in the Bronx, Rush Hour, dan Shanghai Noon.

Kini, saat namanya makin melambung, ia selalu teringat masa ketika masih menderita. Karena itu, ia berkomitmen untuk memperbanyak aktivitas sosial. Salah satunya ditunjukkan ketika ia membantu dan mengunjungi Aceh pascatsunami. Ia kini juga diangkat sebagai duta UNICEF dan UNAIDS, serta membuat beberapa yayasan untuk membantu orang yang membutuhkan, dari memberikan beasiswa, sampai pengobatan gratis. Jackie juga banyak berkeliling dunia untuk menjalankan misi perdamaiannya.

Wednesday, September 24, 2008

HOWARD SCHULTZ - STARBUCKS CAFE


Sebuah cerita klasik Amerika tentang impian wiraswasta: mulai dengan sebuah ide besar, menarik beberapa investor, dan membangun sebuah bisnis yang menguntungkan dan tahan lama. Masalahnya, menurut Schultz, anda biasanya mulai sebagai orang yang dipandang rendah dan dengan penuh kecurigaan. (Bahkan sebuah produsen mesin espresso di Milan juga menolak berinvestasi untuk Schultz, tidak percaya bahwa orang Amerika akan menyukai espresso seperti orang Italia.) Namun kini cerita itu tinggal sejarah. Perusahaan kopi Starbucks telah menjadi suatu fenomena sukses bisnis yang paling menakjubkan dalam dekade ini.

Berawal dari empat store kecil di Seattle, Starbucks kini telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah perusahaan dengan lebih dari 1600 store di dunia dan sampai hari ini masih terus membuka yang baru.

Sungguh tidak terduga dan mengherankan. Bagaimana suatu ide wiraswasta yang ditolak banyak orang bisa menjadi sebuah keberhasilan? `Jawabannya tidak mudah, namun banyak yang harus dilakukan dengan insting. Ide-ide terbaik adalah ide yang menciptakan jalan pikiran baru atau merasakan suatu kebutuhan sebelum orang lain melakukannya, ...(hlm.88)'. Schultz memberi tahu para calon investor bahwa apa yang ditawarkannya adalah menemukan kembali sebuah komoditas: mengangkat sesuatu yang sudah tua, renta, dan biasa (kopi) serta merangkai perasaan romantis dan komunitas sekitarnya.
Apakah hanya itu? Mari kita juga mencoba menemukan kembali jawaban yang lebih tuntas dalam buku `Pour Your Heart Into It, Buku `Pour Your Heart Into It' terbagi dalam tiga bagian:

Bagian Satu
yang berjudul Menemukan Kembali Kopi; Tahun-Tahun sampai 1987 berisi kisah kehidupan Schultz (semi-otobiografi): masa kecilnya yang miskin, gagal sebagai pemain bola di saat kuliah, sukses selepas kuliah sebagai salesman Xerox lalu general manager Hammarplast, hingga ia menemukan Starbucks dan menjadi salah satu karyawan di masa-masa awal Starbucks.

Bagian Dua
yang berjudul Menciptakan Kembali Pengalaman Kopi; Tahun-Tahun Pribadi 1987-1992 berisi pengalaman Schultz memimpin Starbucks moderen, setelah berhasil memperoleh banyak investor, dan sekaligus mengubah Starbucks menjadi kafe pengecer minuman kopi seperti yang dikenal sekarang.
Bagian Ketiga, Memperbarui Semangat Wiraswasta; Tahun-tahun Publik 1992-1997, merupakan cerita babak baru manajemen Starbucks setelah memutuskan untuk mendaftarkan saham pertamanya di pasar modal, atau Initial Public Offering.

Mencapai Garis Finis Bersama
Keberhasilan Starbucks jelas disebabkan oleh kombinasi rumit dari banyak faktor. Seperti yang dikatakan Schultz: `Apa yang memungkinkan Starbucks...merupakan kombinasi dari disiplin dan inovasi, proses dan kreativitas, kehati-hatian dan keberanian yang hanya segelintir perusahaan menguasainya.(hlm.298)' Namun sepanjang buku ini yang paling ditonjolkan adalah ide tentang `mencapai garis finis bersama-sama.' Schultz selalu berusaha mencapai garis finis bersama empat pihak (pendahulu, investor, karyawan/partner, dan manajemen), sebagaimana tersirat dalam lembar demi lembar halaman buku ini. sumber:http://www.swa.co.id

WARREN BUFFET - NO 1 RICHEST MAN


Kisah tentang Sang Bijak dari Omaha ini dapat ditemukan dimana-mana. Sangat banyak buku yang membahas langkah investor papan atas ini. Langkah-langkah bisnisnya sangat mempesona dan cerdik sehingga selalu menjadi buruan para wartawan bisnis dan selalu menjadi perhatian para investor perorangan. Begitu banyak pula media yang telah menulis tentang sosoknya. Yang menarik hampir setiap langkah yang diambil Buffet adalah sebuah langkah investasi, dengan membeli saham perusahaan. Tahun lalu sempat muncul rumor di milis investor perorangan bursa Jakarta, bahwa sang investor fundamental Warren Buffett “berbelanja” saham di Bursa Efek Jakarta. Segera saja para anggota milis menebak saham apa kira-kira yang akan diborong investor kelas wahid tersebut. Selain itu, ditoko-toko buku dapat ditemukan beberapa buku panduan investasi yang mengupas cara-cara sukses melakukan investasi ala Buffett.

Langkah awal Warren Buffet yang strategis adalah dimulai saat ia membeli saham perusahaan tekstil Berkshire Hathaway pada tahun 1962 seharga US$ 8 per lembar. Tiga tahu kemudian, ia berhasil menjadi pemegang saham terbesar perusahaan tersebut. Dengan cerdik, ia memutar uang perusahaan yang menganggur dalam bentuk investasi, misalnya dengan membeli perusahaan asuransi, perusahaan permata, utilitas dan makanan melalui Berkshire Hathaway. Kini, setelah 46 tahun, saham kelas A Berkshire Hathaway telah meroket luar biasa, dan sempat mencapai US$ 150.000 per lembar saham. Melalui perusahaan ini pula, ia dapat menguasai saham beberapa perusahaan kelas dunia (walau tidak menjadi pemegang saham pengendali) seperti pada Coca Cola, Anheuser-Busch, WellFargo dan Kraft Food. Langkah bisnis terbarunya, pada desember 2007 lalu ia mengakuisisi perusahaan manufaktur dan jasa , Momon Holding dengan nilai US$ 4,5 miliar.

Strategi investasinya sederhana. Dia tak ingin dipusingkan oleh rumor yang setiap hari berseliweran dikalangan para investor saham. Warren Buffet berfokus pada perusahaan yang punya potensi untuk berkembang, tetapi masih berharga murah untuk dibeli. Langkah investasi Buffet sangat berbeda dari langkah George Soros, sang spekulan valas (forex) kelas kakap, yang pernah diisukan sebagai orang yang bertanggungjawab atas merosotnya nilai tukar rupiah terhadap US$ pada tahun 1998. Seorang spekulan saham biasanya : Beli saat harga rendah, berharap dan menunggu, lalu jual kembali saat harga tinggi. Spekulan saham lebih fokus bermain untuk jangka pendek dan mendapatkan gain/ keuntungan berupa selisih dari harga jual di kurangi harga beli. Robert T kiyosaki sendiri menyebut investor jenis ini sebenarnya bukan investor yang melakukan investasi, tetapi lebih mirip penjudi dipasar saham (spekulasi). Investor jenis juga ini dikenal sebagai investor “ji-go-bur”, investor yang jika sudah mendapatkan keuntungan ala jigo-gocap, beli saham pada harga Rp 25 lalu jual kembali pada harga Rp 50, bahkan spekulan saham seringkali membeli saham di pagi hari dan menjualnya di sore hari.

Keputusannya melakukan investasi didasarkan pada nilai intrinsik perusahaan, tidak pada kenaikan harga saham yang didongkrak alias “digoreng”. Warren Buffett memegang saham (melakukan investasi) dalam jangka panjang dan tidak melakukan transaksi jual beli saham dalam jangka pendek. Mungkin banyak orang yang belum tahu satu hal yang selalu dilakukan Warren Buffett dan menjadi pertimbangannya dalam membeli saham sebuah perusahaan, yaitu melihat apakah cerobong asap perusahaan masih mengepul, baginya ini merupakan salah satu indokator perusahaan tersebut benar-benar masih eksis dan operasional.

Selain itu, Warren Buffett hanya mau melakukan investasi pada perusahaan yang bisnis atau produknya ia kenal dengan baik. Warren Buffet tidak pernah menggunakan prinsip “membeli saham” tetapi “membeli bisnis” (buying a business not share). Ia membeli saham coca-cola dan tidak pernah menjualnya, walau saham Coca-Cola sempat jatuh pada tahun 1998-1999, ia tetap melihat pada tren jangka panjang dan tetap memertahankan saham Coca-Cola hingga saat ini. Itulah sebabnya, ia tidak pernah mau membeli saham Microsoft atau perusahaan dotcom. Pada saat tahun 2.000 – an bisnis internet booming, eforia melanda semua orang di pasar saham dan beramai-ramai membeli saham dotcom. Tetapi Waren Buffett tidak ikut-ikutan membeli saham dotcom seperti halnya investor lain. Walaupun ia pernah ditertawakan investor lain karna ia tidak mau membeli saham dotcom seperti yang lainnya, sekarang justru ia yang tertawa paling akhir karena ternyata sebagian besar investasi di dotcom tersebut hangus. Ia selamat dari badai dotcom awal tahun 2.000-an karena ia tidak mengenal bisnis dotcom dan oleh karenanya tidak berinvestasi disana. Ia bukan seoran investor yang ikut-ikutan, tetapi memiliki pertimbangan bisnis sendiri didalam dirinya. Saham perusahaan berbasis internet seperti Global Crossing dan Etoys.com pernah mencapai US$ 80 per unit, namun sekarang saham-saham tersebut sudah tidak berharga. Tentu saja penilaian warren Buffet tidak cocok pas untuk saham Google.

Selain itu, Warren Buffett dalam membeli sebuah saham perusahaan yang masuk dalam kreterianya, tidak pusing dengan tabel, rumus grafis dan analisis teknikal. Hal yang lebih di analisanya adalah fundamantal perusahaan tersebut. Buku favoritnya ialah The Intelligent Investor karya Ben Graham, gurunya. menurut Graham, berinvestasi adalah berkenaan dengan bagaimana memahami gambaran besar, dan bukan terpaku pada detail-detail teknis.

Perusahaan yang dibelinya akan diperbaiki sebaik mungkin, fundamental bisnisnya ditingkatkan sehingga kinerja keuangannya semakin sehat dan baik. Perusahaan yang sebelumnya akan gulung tikar, olehnya bisa dirubah menjadi perusahaan seksi yang ibarat gula yang sangat menarik untuk dikerubuti oleh para investor. Jangan heran jika harga saham Berkshire Hathaway - - perusahaan yang digunakan sebagai alat untuk membeli banyak perusahaan - - harga sahamnya terus meningkat di pasar modal.

Namun, strategi bisnis Warren Buffett yang didasarkan pada kesabaran dan ketelatenan itu mungkin lebih cocok diterapkan pada negara dimana bursa sahamnya memiliki sistem yang bagus dan kuat, dimana kontrol pengawas harus kuat dan selain itu emiten (perusahaan penerbit saham) haruslah jujur. Namun dibeberapa bagian dunia ini tidak semua sistem bursa sahamnya bagus dan kuat, karena ada yang pengawas bursanya bisa disuap dan berisi perusahaan yang tidak kredibel.

Cerita masa kecil Warren Buffett

Kekayaan Warren Buffett yang luar biasa banyak itu tidak terkumpul dalam satu dua tahun. Tetapi dimulai dari masa mudanya, dimana dia mulai memutar otak dalam mengembangkan asetnya. Kemampuan finansialnya sudah terasah sejak kecil, pada waktu anak-anak sebayanya senang bermain sepakbola. Dan dia adalah seorang individu yang bisa mengambil pelajaran dari masa kecilnya.

Warren Buffet kecil, pada saat berusia enam tahun, membeli 6 Coca-Cola dari toko kakeknya seharga 20 sen. Dan kemudian dia menjual kembali kaleng-kaleng bekas minuman tersebut dengan harga nikel dan mendapatkan untung sebesar 5 sen.

Anak dari tiga bersaudara ini mulai menciptakan “nilai tambah”. Misalnya, pada usai 11 tahun, ia nyambi sebagai seorang loper koran. Tetapi dia mengunakan sebagian waktunya untuk mengelilingi lapangan golf, mencari bola golf yang hilang, lalu kemudian menjual bola golf yang dia temukan kepada para pemain golf disekitar lapangan golf tersebut dengan harga murah.

Masih pada usia 11 tahun, Warren Buffett mendapatkan pelajaran penting dalam berinvestasi, yaitu : BERSABARLAH ! Ceritanya begini, pada saat ia membeli saham pertamanya, berupa tiga unit saham Cities Service Preferred dengan harga US$ 38,25 per saham untuk dia dan kakaknya, Doris. Beberapa waktu setelah membeli saham tersebut, ternyata harga saham tersebut malah berkurang menjadi US$ 27 per saham. Dengan perasaan was-was dan penuh kesabaran ia menunggu harga saham tersebut naik dan tidak mengalami kerugian, dan perlahan-lahan harga saham tersebut kembali naik dan pada saat harga saham tersebut mencapai US$ 40, ia menjualnya. Dengan demikian ia mendapatkan untung hampir US$ 2 per lembar. Namun, kemudian ia menyesal, karena ternyata harga saham Cities Service Preferred terus meroket mencapai US$ 200 per sahamnya. Dari kejadian tersebut dia mendapatkan pelajaran untuk tidak terburu-buru menjual sahamnya.

Pada saat berusia 14 tahun dan masih berada di bangku SMA, sambil bekerja ia bisa menghasilkan US$ 1,200, uang tersebut digunakannya untuk membeli tanah pertanian seluas 40 ha, setelah itu tanah tersebut ia sewakan kepada petani lokal. Dengan demikian ia sudah dapat menciptakan passive income dari sewa tanah tersebut.

Pria sederhana dan dermawan

Warren Buffett walau menjadi manusia terkaya sejagad tetap sederhana dan tinggal di kawasan Dundee, Omaha, yang dibeli olehnya pada tahun 1958. Ia juga bersahabat baik dengan pasangan Bill dan Melinda Gates.

Sesungguhnya Warren Buffett pernah berjanji untuk menyumbangkan kekayaannya setelah ia meninggal. Namun, tampaknya ia bertindak lebih cepat dari dugaan, karena pada bulan Juni 2006, Warren Buffett mendermakan 10 juta sahamnya di Berkshire senilai US$ 30,7 miliar kepada yayasan Bill & Melinda Gates. Jumlah sumbangan amal Buffett tercatat sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika. Selain itu, ia juga menyumbangkan hartanya berupa saham di Berkshire sebesar US$ 6,7 miliar untuk yayasan Susan Thompson Buffett. Ia juga memberikan donasi untuk calon presiden dari partai demokrat Amerika, Barrack Obama dan Hillary Clinton.

Sebenarnya, Warren Buffett bisa saja hidup mewah dengan hartanya yang melimpah tersebut, namun ia hanya memiliki 2 jet pribadi dan satu yacht mewah untuk bersenang-senang. Dibanding kemewahan pebisnis lain yang kekayaannya berbeda jauh sekali dengannya, sebenarnya dapat dikatakan ia terlalu sederhana.

Sumber Referensi: Koran Kompas, sudutpandang.com

Tuesday, September 23, 2008

EUGENE SCHUELLER - L'OREAL COSMETICS


Eugene Schueller memulai bisnis juga dari pekerjaanya sebagai ahli kimia. Sebagai ahli kimia yang masih muda, ia berhasil membuat formula pewarna rambut yang inovatif yang ia namakan “Aureole”. Kemudian Schueller mendirikan perusahaan yang bernama “Societe Franncaise de Teentures Inoffensives pour Cheveux” pada tahun 1909, yang akhirnya menjadi “L’Oreal”.

Prinsip yang digunakan Schueller untuk meraih sukses adalah riset dan inovasi yang menitikberatkan pada kecantikan. Bermula dari perusahaan kecil dan ia sendiri sebagai ahli kimianya, baru 11 tahun kemudian menambah 3 ahli kimia dan sekarang mendekati 2000 ahli kimia yang dipekerjakan.

Schueller menjual produknya ini pada awalnya kepada para penata rambut di Paris. Lima tahun kemudian produk L’Oreal telah ditemukan di Belanda, Austria dan Italia. Beberapa tahun kemudian, lewat agen dan perwakilannya mendistribusikan ke Amerika Serikat, Rusia dan Asia.

Sekarang produk L’Oreal telah hadir di seluruh dunia dan L’Oreal termasuk perusahan yang yang paling mengagumkan di Perancis dan peringkat 23 yang mengagumkan dunia versi majalah Fortune.